Rabu, 09 Februari 2011

Polri Mengaku Kewalahan Hadapi Rusuh Cikeusik


Rabu, 9 Februari 2011 12:14 WIB

Bentrok di Cikeusik
Jakarta,
Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengakui aparat kepolisian setempat kewalahan menghadapi jumlah massa saat terjadi kerusuhan di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, Minggu (6/2). "Mungkin (polisi) kewalahan karena jumlah massa tidak sebanding dengan jumlah anggota," kata Kepala Bidang Penerangan Umum Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri, Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar, saat dihubungi melalui telepon seluler di Jakarta, Rabu (9/2).

Boy menyatakan, beberapa petugas kepolisian berada di lokasi kejadian saat terjadi kerusuhan, namun tidak dapat berbuat banyak karena jumlah massa cukup banyak. Perwira menengah kepolisian itu menambahkan, lokasi kejadian juga cukup jauh dengan jarak tempuh sekitar 4 kilometer dari Kepolisian Daerah (Polda) Banten, sehingga Polda Banten tidak dapat mengirimkan petugas untuk mengamankan insiden kerusuhan massa itu.

Boy menuturkan pihaknya juga belum menemukan ada indikasi pembiaran petugas saat kejadian kerusuhan massa itu. "Kalau ada unsur pembiaran, mungkin polisi juga tidak akan di lokasi kejadian," ujar Boy.

Mantan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya itu, menuturkan, seharusnya anggota yang melihat insiden kerusuhan itu memberlakukan Prosedur Ketetapan (Protap) Nomor: 1/X/30120 tentang penanganan terhadap pelaku kerusuhan anarkis. "Secara teori harusnya memberlakukan Protap Nomor 1, tetapi jumlah massa sangat banyak," tutur Boy.

Sebelumnya, sekelompok massa menyerang tempat kegiatan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, Minggu (6/2). Peristiwa penyerangan itu, menewaskan tiga orang di lokasi kejadian dan beberapa orang lainnya mengalami luka parah. Saat ini, polisi telah menetapkan dua tersangka kerusuhan dan penganiayaan warga Ahmadiyah, yakni U dan W. (Ant)

Dua Belas Jenis Komoditas Pangan Naik Selama 2010


Rabu, 9 Februari 2011 16:17 WIB

Jakarta,
Harga 12 jenis komoditas pangan dilaporkan meningkat bahkan tiga diantaranya melonjak diatas 90 persen sepanjang januari 2010 hingga Januari 2011.

Kenaikan tertinggi dialami oleh komoditas cabai rawit yang naik sekitar 340 persen menjadi Rp63.400 per kilogram.

Sementara, harga beras umum pada periode Januari 2010 hingga Januari 2011 naik 22,74 persen menjadi Rp9.200 per kilogram, seperti dilansir Badan Pusat Statistik.

Sedangkan harga beras termurah juga dilaporkan naik 22,6 persen menjadi Rp7.452 per kilogram.

Komoditas lainnya yang juga mengalami kenaikan yakni minyak goreng umum. Harga minyak goreng umum dilaporkan naik 14,71 persen menjadi Rp11.707 per liter. Sedangkan harga minyak goreng curah  meningkat 6,8 persen menjadi Rp11.466 per liter.

Komoditas tempe juga tercatat lebih mahal 0,82 persen menjadi Rp8.554 per kilogram. Sedangkan harga tahu pada periode yang sama dilaporkan lebih tinggi 2,8 persen menjadi Rp 7.471 per kilogram.

Pada kelompok daging, daging sapi dilaporkan meningkat 5,87 persen menjadi Rp64.715 per kilogram. Sementara harga daging ayam meningkat 15,79 persen menjadi Rp24.059 per kilogram.

Lonjakan paling fantastis tercatat pada harga komoditas cabai. Cabai merah lebih mahal 115 persen menjadi Rp44.692 per kilogram.

Tak hanya itu, Cabai rawit melonjak 314,23 persen menjadi Rp 63.424 per kilogram. Sementara, harga bawang merah lebih mahal 99,53 persen menjadi Rp25.048 per kilogram.