Minggu, 13 Februari 2011

Polisi Jaga Permukiman Ahmadiyah di Sultra Minggu, 13 Februari 2011 17:01 W


Kendari,

Jajaran Polda Sulawesi Tenggara menempatkan personil pada setiap pemukiman jemaah Ahmadiyah sebagai antisipasi terjadinya tindakan anarkis dari oknum yang tidak bertanggungjawab. "Kepolisian telah melakukan pendekatan dengan tokoh agama, tokoh masyarakat dan pihak-pihak terkait untuk menjamin keamanan bagi pengikut Ahmadiyah," kata Kabid Humas Polda Sultra AKBP Fahrurozzi di Kendari, Minggu (13/2),

Fahrurozzi mengatakan hingga saat ini tidak ada ancaman yang diterima jemaah Ahmadiyah maupun temuan aparat kepolisian. Namun sedini mungkin jajaran kepolisian mengantisipasi agar tidak ada tindakan anarkis. "Main hakim sendiri" antar golongan atau kelompok tertentu tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan menambah masalah yang merugikan masyarakat secara luas, katanya.

Keberadaan aliran Ahmadiyah sejak tahun 80-an di Sultra tidak mendapat protes dari masyarakat namun pihak kepolisian dan pihak terkait tetap waspada. Data Polda Sultra bahwa pengikut Ahmadiyah di Kabupaten Konawe Selatan sebanyak 313 orang, Kabupaten Kolaka 42 orang dan Kota Kendari sebanyak 184 orang.

Polri Diminta Mampu Antisipasi Konflik


Minggu, 13 Februari 2011 13:14 WIB

Bentrok di Cikeusik
Jakarta,
Indonesia Police Watch (IPW) mengimbau jajaran Kepolisian RI untuk meningkatkan deteksi dini dan antisipasi terhadap potensi ancaman kamtibmas di masyarakat. "Hal tersebut mengingat makin tingginya konflik elite politik di Jakarta dengan ditahannya sejumlah politisi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane di Jakarta, Minggu (13/2).

Menurutnya, konflik elite tersebut bukan mustahil berdampak ke tingkat bawah. "Misalnya penggunaan tanda pita dalam kasus Pandeglang patut dicermati untuk memojokkan kelompok tertentu," kata Neta.

IPW berharap, Polri segera mengungkap siapa di belakang bentrok yang terjadi di Pandeglang, agar tidak muncul keresahan dan konflik di masyarakat serta menindak pelakunya.
Kasus bentrokan antara anggota jamaah Ahmadiyah dan warga yang terjadi Minggu pagi (6/2) di Kampung Pendeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang menyebabkan jatuhnya delapan korban di antaranya tiga meninggal. Adapun tiga korban yang meninggal di loksi bentrokan yakni Karno dan Mulyadi yang merupakan kakak beradik, warga Kecamatan Cikeusik serta seorang lainnya bernama Roni, warga Jakarta.